Sewaktu diserahi tugas menyunting novel sejarah karangan Conn Iggulden ini, saya amat antusias. Ini buku sejarah pertama yang saya tangani untuk GPU dan yang bikin bersorak, lokasinya di Asia. Mengetahui pengarangnya bukan orang Asia pun tidak mengurangi semangat, sebab sebelum ini saya sudah membaca buku-buku berbau Mongol baik terbitan dalam negeri maupun terjemahan dan hasil karya penulis yang berbeda. Salah satunya Garis Batas yang ditulis Agustinus Wibowo. Semua menghasilkan sudut pandang yang berlainan sebagai “sedikit” bekal.

Desain sampul: Satya Utama Jadi

Mengapa sedikit? Dalam perjalanannya, novel tebal yang sangat kental aroma laganya ini mengharuskan saya riset lagi. Buku tidak cukup, bahkan sebenarnya ada yang tak tersentuh. Saya kerap melihat kuda dan orang berkuda, juga dalam film, namun baru sekarang mendapati adegan orang menyayat leher kuda kemudian minum darahnya langsung dari sana. Penelusuran mencakup peralatan dan senjata, untuk mengecek istilah. Ini khususnya panah dan busur.

Saya juga sempat membaca-baca kamus pendek bahasa Mongolia. Ini dikarenakan berbagai istilah yang tidak “seragam” sepengingat saya, terkait buku-buku bertema sejenis. Yang banyak muncul contohnya yurt dan arban. Belum lagi nama-nama karakter yang telanjur saya hafalkan dengan ejaan berbeda. Saya harus mondar-mandir sekian bab untuk mencamkan urutan saudara, mana Kachi’un mana Khasar, misalnya. Ini dibutuhkan untuk memeriksa konsistensi. Berhubung teks aslinya acap menggunakan kata ganti, kadang perlu sekian menit bahkan nyaris setengah jam untuk mengerti siapa “he” yang dimaksud ketika dalam satu adegan/latar ada dua karakter pria.

“He is afraid of you, so he hates you. It would be wrong to hurt him again. It would be like beating a dog after it has loosed it’s bladder. The spirit is already broken in him.”

Buku ini juga terbit dengan judul lain, Genghis: Birth of an Empire. Namun saya pribadi lebih menyukai judul versi “Wolf” sebab tidak membosankan, mengingat sudah banyak buku mengangkat Genghis Khan. Serunya, novel ini mengisahkan Temujin, nama asli Genghis Khan, sedari kanak-kanak. Porsi utama diberikan padanya, tanpa mengurangi sorotan pada anggota keluarga lain. Kisah persaudaraan beberapa anak lelaki ini menggelegakkan darah, menggetarkan emosi, mendekatkan Temujin ke hati saya sebagai sesama anak kedua. Meski maskulin dengan aneka pertarungannya, Wolf of The Plains tak meninggalkan sisi drama yang mengaduk-aduk hati. Penceritaan Conn Iggulden yang memukau membuat saya ikut menghayati ucapan Temujin di bawah ini.

“Be careful in your life, Tolui. I want you fit and strong for when I come for you.”

Untuk kepentingan referensi pula, saya menonton film lama berjudul Mongol. Filmnya hening, nyaris minim dialog, namun suasana yang terbangun kental sekali terlepas dari beberapa unsur fisik pemain yang tidak seperti bayangan saya (ini harus mulai saya tanggalkan). Sebagaimana uraian Jack Wetherford dalam The Secret History of Mongol Queens, para wanita Mongol sangat kuat dan tangguh. Mereka mampu mendampingi pemimpin, menjadi ibu yang teguh, dan sanggup bertahan hidup di situasi sulit yang mengancam nyawa.

Trailer buku

Kembali pada konflik persaudaraan Temujin dan adik-adiknya, sampai mereka beranjak dewasa, saya terkekeh-kekeh ketika Kachiun dan Khasar bertentangan ihwal cara mendidik adik lelaki termuda, Temuge. Bocah yang paling halus itu mudah menangis dan kerap berlaku manja. Khasar menempa Temuge secara fisik, mendorongnya melawan dan berkelahi. Ketika Kachiun mengritik sikapnya terlalu kasar, dia membalas, “Tidak. Jika sekali lagi kudengar dia disebut ‘anak yang sensitif’, kupikir aku akan memuntahkan makan malamku.” (hal. 507)

Buku perdana seri Conqueror ini mundur cukup lama dari jadwal terbitnya. Harapan saya, semua judulnya dapat diterbitkan di sini.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)