Sumber poster

Saya terbiasa melihat Charlize Theron sebagai perempuan kuat, tabah, dan karakter-karakter sejenisnya. Menarik juga menemukannya memerankan sosok berbeda: narsistik, cantik, egois, dan benar-benar repot dengan urusan lain. Di samping ge-er tentunya. Mavis Gary, sosok itu, spontan pulang kampung begitu menerima e-mail berlampirkan foto bayi kekasih masa SMA-nya, Buddy Slade (Patrick Wilson). Mavis berkeyakinan Buddy tidak bahagia dengan kehidupan membosankan di kota kecil, apalagi menjadi ayah yang begitu lelah dan berniat mengajaknya kembali bersama.

Begitu ngototnya Mavis, ia mengabaikan perhatian dan nasihat kawan lama, Matt (Patton Oswalt). Kebalikan Mavis yang terkenal dan sempat menjadi ratu dansa, Matt ditindas sampai cacat kakinya. Mereka sebenarnya tidak pernah mengobrol, namun kepentingan Mavis akan Buddy membuat mereka akrab dan sering bertemu.

Perangai Mavis bisa jadi mengesalkan. Ia pura-pura menaruh anjing di mobil, padahal resepsionis hotel jelas mendengar dengkingan lirih dari tas. Sebelum bertemu Buddy yang menganggapnya nostalgia sederhana antarteman, Mavis ke salon dulu. Saya tidak jengkel, malah jatuh iba ketika Mavis masuk toko buku dan mendapati seri buku remaja yang di-ghostwriting-inya kelebihan stok sehingga pengelola toko tidak yakin akan laku.

Ini pemahaman baru, seorang penulis buku remaja yang sebenarnya bukan remaja lagi bisa terbawa suasana dan tabiat tokoh-tokoh fiktifnya. Mavis kerap mencuri dengar obrolan ABG di tempat umum untuk dituangkan dalam naskah, sebab ia masih dikejar tenggat. Rupanya di sana, nama ghostwriter tetap dicantumkan meski lebih kecil di halaman sampul dalam.

Saya juga bersimpati pada warga Mercury, kawan-kawan sekolah Mavis yang tidak menyukai kepongahannya namun tetap bersikap sopan. Menengok masa lalu memang ada perlunya, namun jangan berlarut-larut. Hidup harus terus berjalan, dan dalam tempo singkat saja banyak hal bisa berubah.

Skor: 3/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)